Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Hikmah di Balik Perasaan Tertinggal, Refleksi Spiritual dalam Islam dan Teori Richard Carlson

Bayangkan semua orang di sekitar kita tiba-tiba mendapatkan pencerahan mereka menjadi bijaksana, damai, mendapatkan kesuksesan, jadi bos, punya bisnis dimana-mana dan memahami makna kehidupan dengan jelas, sementara kita sendiri masih merasa bingung, terjebak dalam kebodohan, atau kegelapan batin. Situasi ini tentu bisa menimbulkan perasaan terisolasi, kesepian, atau bahkan frustrasi. Namun, justru dalam momen seperti inilah kita bisa belajar banyak. Beberapa hal yang bisa direfleksikan:

1. Ini Adalah Ujian Kesabaran dan Kerendahan Hati 

Ketika kita merasa tertinggal, ini adalah kesempatan untuk melatih kerendahan hati dan menerima bahwa setiap orang memiliki waktunya sendiri. Pencerahan bukanlah perlombaan, melainkan perjalanan pribadi yang unik. Kamu harus fokus pada target dirimu sendiri, walaupun orang terdekatmu menuntutmu tapi ini hidupmu yang sudah kamu desain sebaik mungkin.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:

وَلِكُلٍّ دَرَجَاتٌ مِمَّا عَمِلُوا ۚ وَمَا رَبُّكَ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ

"Dan setiap orang memperoleh derajat-derajat (sesuai) dengan apa yang dikerjakannya. Dan Tuhanmu tidak lengah terhadap apa yang mereka kerjakan." (QS. Al-An'am: 132)

Setiap orang memiliki jalan dan waktu yang berbeda untuk mencapai kebaikan atau pencerahan spiritual. Ini adalah bagian dari qadar (takdir) Allah. Kita tidak perlu merasa iri atau tertekan, karena Allah Maha Adil dan Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya.

2. Belajar dari Orang Lain

Jika orang di sekitar kita sudah mencapai pencerahan, kita bisa belajar dari mereka. Tanyakan, amati, dan resapi kebijaksanaan mereka. Ini adalah kesempatan emas untuk tumbuh. Richard Carlson menuturkan dalam bukunya "yang kita lakukan sebenarnya mengubah persepsi diri {mengapa orang-orang bersikap begitu?}, menjadi {Apa yang hendak mereka ajarkan kepadaku?}"

Pendapat tersebut menunjukan kepada kita bahwa perilaku orang lain tidak dapat kita kontrol, tapi kita bisa mengkontrol perasaan, pikiran kita agar tetap berfikir positif dan mengambil hikmah dari sudut pandang yang jernih

3.  Jangan Bandingkan Diri dengan Orang Lain

Setiap orang memiliki jalan spiritual yang berbeda. Membandingkan diri hanya akan menimbulkan kecemasan. Fokuslah pada proses dan perjalanan kita sendiri. Richard Carlson mengajak dalam bukunya berjudul "Jangan Membuat Masalah Kecil jadi Masalah Besar" agar tetap melihat semua dari sudut kebaikannya. Karena kita tidak di ajarkan menghakimi, melihat kesuksesan orang dengan pandangan buruk, semua punya pelajarannya masing-masing apabila kita mau melihat kebaikannya. Apa yang telah kita raih saat ini, adalah hasil perjuangan kita sendiri yang harus di syukuri.

Rasulullah SAW bersabda:

لاَ حَسَدَ إِلاَّ فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ مَالاً فَسَلَّطَهُ عَلَى هَلَكَتِهِ فِي الْحَقِّ، وَرَجُلٌ آتَاهُ اللَّهُ حِكْمَةً فَهُوَ يَقْضِي بِهَا وَيُعَلِّمُهَا

"Tidak boleh iri hati kecuali dalam dua hal: (1) seseorang yang diberi harta oleh Allah lalu dia menggunakannya untuk kebenaran, dan (2) seseorang yang diberi hikmah (ilmu) oleh Allah lalu dia mengamalkan dan mengajarkannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jika orang lain telah mencapai pencerahan atau kebijaksanaan, kita tidak boleh iri. Sebaliknya, kita harus bersyukur dan menjadikan mereka sebagai inspirasi untuk terus belajar dan mendekatkan diri kepada Allah.

Perasaan "tertinggal" bisa menjadi pendorong untuk lebih giat mencari pencerahan. Tanyakan pada diri sendiri: Apa yang masih perlu saya pelajari? Apa yang menghalangi saya? Kesadaran bahwa kita "belum tercerahkan" sebenarnya adalah tanda bahwa kita sudah mulai membuka mata. Ini adalah langkah pertama menuju pencerahan.

Jadi, meskipun terasa berat, situasi ini bisa menjadi titik awal untuk refleksi dan pertumbuhan. Teruslah berjalan, dan percayalah bahwa setiap orang akan sampai pada tujuannya pada waktunya sendiri

Posting Komentar untuk "Hikmah di Balik Perasaan Tertinggal, Refleksi Spiritual dalam Islam dan Teori Richard Carlson "