Mengatasi Kehampaan: Belajar dari Rollo May dan Ajaran Islam
Rollo May, seorang psikolog eksistensial, dalam karyanya membahas konsep kehampaan (void) sebagai perasaan kosong atau tidak bermakna yang dialami manusia ketika mereka kehilangan tujuan, nilai, atau arah dalam hidup. Menurut May, kehampaan bukanlah sesuatu yang harus dihindari, melainkan sebuah tantangan eksistensial yang, jika dihadapi dengan kesadaran dan keberanian, dapat mendorong pertumbuhan pribadi dan penemuan makna baru. Namun, jika diabaikan, kehampaan dapat menyebabkan depresi, kecemasan, atau keputusasaan.
Pada buku Rollo May "Manusia Mencari Dirinya" kehampaan yang dirasakan masyarakat Amerika di masanya yaitu dalam pekerjaan, jodoh, kehidupan sosial yang tidak sanggup menghadapi tujuan hidup dijangka panjang. Bahkan itu bisa terjadi pada seorang yang sibuk dalam bekerja. Bahkan, ditulis juga "kehampaan yang dirasakan orang zaman sekarang telah berubah dari kondisi kebosanan menjadi kesia-siaan dan keputusasaan yang akan mendatangkan ancaman-ancaman serius."
Dalam konteks agama Islam, konsep kehampaan ini dapat dikaitkan dengan beberapa prinsip dan ajaran yang memberikan solusi spiritual dan praktis untuk mengatasi perasaan kosong tersebut. Islam, sebagai agama yang holistik, menawarkan kerangka hidup yang jelas dan bermakna, yang dapat membantu individu mengisi kekosongan batin dan menemukan tujuan hidup yang lebih dalam. Berikut adalah beberapa cara Islam mengatasi kehampaan:
1. Tujuan Hidup yang Jelas (Maqasid al-Hayat)
Islam mengajarkan bahwa tujuan utama hidup manusia adalah untuk beribadah kepada Allah (QS. Adz-Dzariyat: 56). Ketika seseorang kehilangan arah atau merasa hampa, Islam mengingatkan bahwa hidup memiliki makna yang lebih besar, yaitu untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dengan memahami tujuan ini, seseorang dapat mengisi kekosongan batin dengan aktivitas yang bernilai spiritual, seperti shalat, zikir, dan amal saleh.
Tujuan yang jelas akan menimbulkan berbagai aktivitas yang positif, hal ini terus dibarengi dengan kegiatan kegamaan yang menjadi petunjuk bagimu.
2. Tawakkal dan Kepasrahan kepada Allah
Islam mengajarkan konsep tawakkal, yaitu berserah diri kepada Allah setelah berusaha. Ketika seseorang merasa hampa karena ketidakpastian atau kegagalan, tawakkal membantu mereka melepaskan beban eksistensial dan menyerahkan hasil akhir kepada Allah. Ini memberikan ketenangan batin dan mengurangi perasaan kosong. Manusia tidak bisa sepenuhnya mengandalkan dirinya, sehingga harus memiliki kerendahan ego dalam tujuan hidupnya. Terus semangat dan tidak putus asa atas kegagalan adalah hal yang harus di terapkan, karena kegagalan adalah pelajaran, pengalaman untuk diri lebih baik.
3. Zikir dan Refleksi Spiritual
Praktik zikir (mengingat Allah) dan refleksi spiritual dalam Islam, seperti muhasabah (introspeksi diri), membantu individu mengalihkan fokus dari kekosongan duniawi kepada hubungan dengan Allah. Dengan terus mengingat Allah, hati menjadi tenang dan terisi dengan ketenangan spiritual (QS. Ar-Ra’d: 28).
4. Komunitas dan Ukhuwah (Persaudaraan)
Kehampaan seringkali muncul dari perasaan terisolasi atau kesepian. Islam menekankan pentingnya komunitas dan persaudaraan (ukhuwah) di antara sesama Muslim. Dengan terlibat dalam kegiatan sosial, seperti shalat berjamaah, dakwah, atau membantu sesama, seseorang dapat menemukan dukungan dan makna dalam hubungan dengan orang lain.
Kegiatan sosial mengajarkan kita memahami perbedaan, membuat diri lebih menerima, serta membuat hidup lebih berwarna. Kunci agar itu tetap dirasakan yaitu dengan saling memahami dan belajar bersama.
5. Sabar dan Syukur
Islam mengajarkan sikap sabar dalam menghadapi kesulitan dan syukur atas nikmat yang diberikan. Sabar membantu seseorang menerima keadaan yang sulit tanpa merasa hampa, sementara syukur mengingatkan mereka untuk melihat berkah dalam setiap situasi. Kedua sikap ini membantu mengatasi perasaan kosong dengan membangun perspektif positif terhadap hidup.
6. Kesadaran akan Kematian dan Kehidupan Akhirat
Islam mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara dan kehidupan akhirat adalah tujuan akhir. Kesadaran ini membantu seseorang mengatasi kehampaan dengan memandang kehidupan dunia sebagai persiapan menuju kehidupan yang abadi. Hal ini memberikan motivasi untuk berbuat baik dan menghindari keterikatan berlebihan pada hal-hal duniawi.
Kita memiliki alasan yang kuat untuk khawatir, sama seperti para penulis majalah Fortune, dengan situasi kehampaan dan konformitas individual ini. Yang perlu kita lakukan adalah mengingatkan diri kita sendiri bahwa kekosongan emosional dan etis yang terjadi pada masyarakat Eropa dua atau tiga dekade lalu merupakan pintu masuk bagi kediktatoran fasis sebagai cara untuk mengatasi dan mengisi kekosongan tersebut. -hal 29
Kutipan di atas menjelaskan, kekosongan, kehampaan atau kebosanan seharusnya menjadi wadah untuk kita mengisinya dengan hal yang bermanfaat. Al-Qur’an, sebagai pedoman hidup umat Islam, memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan eksistensial yang sering memicu perasaan hampa. Dengan mempelajari dan merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an, seseorang dapat menemukan makna dan tujuan hidup yang lebih dalam.
Dengan demikian, meskipun Rollo May membahas kehampaan dari sudut pandang psikologi eksistensial, Islam menawarkan solusi yang mendalam dan holistik untuk mengatasi perasaan kosong tersebut. Melalui ajaran-ajaran spiritual, praktik ibadah, dan nilai-nilai kehidupan yang diajarkan Islam, seseorang dapat mengisi kehampaan dengan makna, tujuan, dan kedamaian batin. Kehampaan, dalam perspektif Islam, bukanlah akhir dari segalanya, melainkan kesempatan untuk kembali kepada Allah dan menemukan makna hidup yang sejati.
Posting Komentar untuk "Mengatasi Kehampaan: Belajar dari Rollo May dan Ajaran Islam"